Jumat, 03 Mei 2013

Hati Yang Terluka


http://i2.wp.com/akuislam.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/Razorblade_Heart_by_scattereddreams.jpg?resize=560%2C737
Kita selalu memerlukan sebuah cermin untuk  menilai seberapa panjang rambut kita, seberapa banyak jerawat yang menghiasi wajah kita, seberapa kedut kemeja yang kita pakai, atau sekadar memastikan apakah hari ini letak telinga sebelah kiri adalah sama dan seimbang dengan telinga sebelah kanan,dan sebagainya..

“Buruk rupa, cermin dibelah.”
Kalimat sakti ini seolah menyindir mereka yang enggan menerima sebuah kenyataan pahit bahawa pada dirinya terdapat perkara yang (mungkin) bertentangan dengan nilai estetika mahupun etika manusia kebanyakan, kerana pada kenyataannya cermin selalu jujur memantulkan objek  di depannya dan (atau) merefleksikan kembali tanpa hipokrit.
Saya menemui salah satu cermin yang  sebenarnya sudah Allah selipkan untuk kita temui sewaktu di saat-saat tertentu ketika saya memerlukannya. Setiap tarikan nafas, menjelma istighfar yang membawa saya kembali menemui kenyataan sejati bahawa diri yang daif ini amat sangat lemah, kecil, dan hampir tak berarti.

Jika Nabi Muhammad SAW yang maksum dan mahfudz beristighfar setiap hari kepada Allah sebanyak 70 kali dengan genangan airmata.
Jika Abu Bakar pernah  memegang lidahnya sambil mengatakan “Lidah inilah yang menjerumuskan aku ke dalam banyak lubang (kesalahan).” sehingga dia sering menangis dan berharap boleh menjadi pohon yang dimakan dan dilumat saja tanpa diminta untuk bertanggungjawab.

Jika Umar pernah didapati pada suatu malam memukul kedua kakinya dengan kayu seraya berkata, ”Apa yang sudah ku kerjakan hari ini.”

Jika Usman setiap kali berhenti pada suatu perkuburan selalu menangis sehingga air mata membasahi janggutnya, demikian juga halnya Ali yang sentiasa menangis kerana takut akan datangnya hari dimana segala sesuatu akan diperhitungkan.

Mengapa saya tidak terganggu dengan perkara itu?  Hei… Apa yang terjadi dengan saya?  Iblis mana yang telah menyelitkan rasa ujub dan takabbur ke dalam rongga hati hingga tanpa sedar diri ini seakan larut dan terbawa, bahkan   memandang diri yang lemah ini dengan kekaguman?
Saya bersyukur Allah telah mengirimkan seorang sahabat di sepertiga malam terahir yang pada dirinya saya temukan “cermin” yang dengan cermin darinya saya dapat melihat  luka-luka yang ada di dalam jiwa saya. Luka-luka yang selama ini  mungkin telah saya abaikan.

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati kerana takut akan azab Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun).
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, kerana mereka tahu sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minuun: 57-60)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar